Friday, July 22, 2011

Hikayah Titik Koma 4 (Lamunanku)




Ini saatnya.
Ini waktunya

Tiit, tiit…
Bunyi ponsel butut dengan antenna besarnya
Yang akupun tak tahu tipenya
Sebuah pesan terbaca

“hei, dah siap lom.
Cpt brangkat yach, acaranya dah mo mulai ni.”

“iya, ntar lagi aku juga brangkat ko’.”


Semua sudah siap
Hanya stu yang belum
Yaitu aku
Semua ritual sudah kujalal
Tetap gagal
Hanya tinggal Satu
Do’a do’a yang terus terucap
Akupun taktahu do’a apa itu
Hingga lidahku kelu

Pada saatnya
Semua ritual, jampi dan do’a
Serta jurus jurus pernafasan yang telah kupelajari
Semua takberfungsi
Tak berguna
Mati

Diri serasa mayat hidup
Yang hatinya mati
Dalam raga yang bernyawa

Hanya dirimu
Sedikit perhatianmu
Sapa lembutmu
Yang aku tunggu

Untuk menghidupkanku
Dari mati suriku
Membuatku merasa hidup
Dalam hati yang telah mati

Pada hari hari berikutnya
Hari hariku takkan bermakna
Tanpa dirimu,
Hanya akan terbanjiri
Oleh lamunanaku
Tentang perasaanku
Tentang diriku
Tentang dirimu

Puisi ini belum berakhir
Dan takkan pernah berakhir
Sekalipun habis
Kata di dunia ini
Karena tiada suatu kata
Mampu menggambarkan perasaanku
Tentang diriku
Tentang dirimu
Tentang lamunanku
Read More..

Wednesday, July 6, 2011

Dipersimpangan kuberdiri




Aku
Citaku kutuju
Egoku adalah citaku
Cita yang jadi jawabku
Jawaban atas keraguan
Jawaban atas pertanyaan

Bilapun perlu
harta ku ikhlaskan untuk citaku
Bilapun perlu
Ragapun kuberi



Tapiku manusia
Bukan dewa
Malaikat
Nabi

Kuatku bukan aku
Kuatku Tuhanku
Kuatku sahabatku
Kuatku
Dirimu

Dipersimpangan kuberdiri
Haruskah
Menghadang jurang berduri
Mendekat cita
Ataukah
Memilih jalan pasti
Entah mana ujungnya

Adakah salahku
Memuja nafsu
Menjawab ragu dunia
Bahwa aku ada

Dipersimpangan kuberdiri
Menangis meratap diri
Di persimpangan kuberdiri
Mengharap sahabat tuk berbagi
Dipersimpangan kuberdiri
Jalan mana harus kulalui
Read More..