Wednesday, April 20, 2011

Sepucuk Surat Cintaku



Assalamualaikum wr.wb.



Dik…

Untuk kesekian kalinya kita bercakap-cakap. Walaupun tidak saling bertatap muka, walaupun isi pembicaraanya tidak melewati batas-bats kewajaran, tapi hati merasakan sesuatu. Sejujurnya, di hati ini saya menolak. Saya takut di balik niat baik kita tersebut (insyaAllah), syaitan selalu menanti kelengahan kita. Saya takut, yang semula niat suci hanya untuk minta keridhaan Allah swt, tercemari oleh nafsu-nafsu dunia. Di balik- percakapan-percakapan kita tersebut, timbul rasa senang.

Syaitan sudah memasang perangkapanya di hati ini. Saya takut hati yang semula ikhlas, menjadi timbul penyakit-penyakit hati. Sedangkan Allah telah berfirman.” Dan jangalah kamu dekati zina, sesungghnya zina itu adalah sesuatu perbuatan keji dan buruk.” (al isra:32)



Dulu, hati ini pernah mengalami seperti itu. Sekarang saya ingin menata hati ini yang telah terpecah-pecah hanya untuk mengharap ridhaNya. Mungkin engkau bisa menjaga hatimu. Tapi aku? Aku butuh perjuangan keras agar jangan sampai terjatuh untuk yang kedua kalinya. Padahal aku sudah memintamu agar bisa membicarakan persoalan melalui email. Dengan email, hanya pokok persoalan saja yang tertuang. Tidak ada senda gurau, kalaupun ada hanya sebuah simbol senyum. Awalnya, engkau terima saran ini. Selanjutnya mungkin engkau lupa pesanku tersebut. Saya hanya bersuudzon, karena hanya alternatif ‘lupa’ itu saja yang bisa ku temukan.



Dik..

Kalau memang sudah ditakdirkanNya, saat-saat itu hanya tinggal beberapa bulan lagi. InsyaAllah. Bersabarlah Dik, janganlah engkau torehkan sebersit garis hitam selama penantian itu. Saya yakin, engkau tidak bermaksud menorehkan noda tersebut.

Kelak, bila masa tersebut telah tiba, semuanya menjadi milikmu. Yang dulunya diharamkan oleh Allah, menjadi halal bagimu. Tapi tunggulah untuk beberapa saat. Sebentar lagi. Selama menunggu, ada kesempatan untuk menata hati. Melalui suatu ikatan, Allah akan memberikan banyak keindahan dan kemuliaan.



Dik …

Semula saya menerimamu karena dien yang engkau miliki. Bukan karena harta atau keluarga engkau. Aku ingin kelak engkau bisa membimbingku untuk selalu bisa berjalan di jalanNya. Aku ingin kelak bisa berdakwah bersama engkau. Aku ingin.. ingin… dan semua keinginan muncul, setelah engkau meminta kesediaanku untuk menemanimu dalam menempuh kehidupan ini. Aku khawatir, semuanya akan kandas di tengah jalan sebelum masa penantian tersebut tiba. Tentu engkau tidak mengharapkan hal itu terjadi.

Bantu aku Dik, bantu untuk tidak selalu sering berhubungan. Hati ini masuh rapuh sekali, retakan2 hati ini masih basah, belum merekat dengan erat. Jangan sampai retakan2 itu kembali menjadi puing. Sungguh, sulit sekali bagiku untuk menatanya lagi.



Dik …

Aku mohon periksalah hati ini. Sudah niat diikhlaskan hanya untuk mendapatkan ridha Allah? Atau karena ada yang lain? Karena kekecewaan terhadap seseorang atau lingkungan yang tidak sesuai harapan? Allah maha pengampun Dik, menangislah mohon ampunan apabila niat tersebut sudah berubah ke jalannya syaitan. Istighfarlah Dik.

Malam ini, aku bermunajat kepadaNya. Mohon diluruskan jalan yang akan aku tempuh. Mohon ampun atas segala kekhilafan yang telah aku lakukan sebagai makhluk yang tidak luput dari kealpaan. Ya Rabbi, bersihkan hati ini dari kotoran-kotoran yang membuat hamba lalai dalam beribadah. Dari kejahatan-kejahatan teselubung yang tiada hamba sadari. Ampuni hamba ya Allah. Amin.



Dik …

Semoga ini mewakili aku yang tidak berani menghubungimu. Dan semoga engkau mengerti alasan mengapa selama ini aku jarang sekali untuk memulai suatu pembicaraan. Sekali lagi maaf, bila hal ini mengganggu engkau, ini semata2 aku lakukan buat kemaslahatan kita bersama.

Jazakumullah khairan katsira.
Wassalamualauk wr.
(dikutip dari artikel dg sedikit editan)

sumber : http://ukki.eepis-its.edu/
(silahkan tag siapa saja yg mau di tag)

No comments:

Post a Comment